Jakarta, 11 Maret 2026
Kementerian Kesehatan RI menegaskan komitmennya untuk mempercepat eliminasi kusta di Indonesia melalui strategi deteksi dini, pengobatan tuntas, serta pemberian pencegahan bagi kontak erat pasien. Hal ini disampaikan dalam Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia yang diselenggarakan di auditorium Siwabessy gedung Prof. Sujudi Kemenkes RI pada Rabu (11/3).
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan bahwa kusta merupakan penyakit menular yang telah ada sejak ribuan tahun lalu dan sering dikaitkan dengan stigma serta diskriminasi di masyarakat. Padahal secara ilmiah, penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan.
“Kusta ini sering diasosiasikan dengan negara miskin karena sejak ribuan tahun lalu penyakit ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga muncul berbagai stigma. Padahal sekarang kita sudah tahu penyebabnya adalah bakteri dan obatnya sudah tersedia,” ujar Menkes Budi.
Ia menekankan bahwa strategi utama dalam mengendalikan kusta adalah dengan menemukan kasus sebanyak mungkin agar dapat segera diobati dan menghentikan penularan.
“Jangan takut jika kasus yang ditemukan banyak. Justru itu menunjukkan sistem deteksi kita bekerja dengan baik. Temukan sebanyak-banyaknya agar bisa segera diobati, karena obatnya ada dan pengobatannya bisa selesai,” kata Menkes.
Menurut Menkes, pengobatan kusta relatif sederhana dan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar enam bulan apabila pasien menjalani terapi secara rutin hingga tuntas.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga memperkuat skrining kusta melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) agar kasus dapat ditemukan lebih dini di masyarakat.
“Strateginya jelas: temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan,” ujar Menkes.
Khusus di wilayah Indonesia Timur, Kemenkes juga mendorong pemeriksaan tambahan untuk mendeteksi kemungkinan resistensi obat melalui pemeriksaan genetik, sehingga pasien dapat segera mendapatkan terapi yang tepat.
Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menyampaikan bahwa peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen nasional dalam menghapus stigma serta mempercepat eliminasi penyakit ini.
“Peringatan Hari Kusta Sedunia merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta,” ujar dr. Andi.
Ia menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan peringatan tahun ini meliputi skrining mandiri keluarga, lomba penulisan bagi jurnalis, hingga puncak acara yang diisi dengan kampanye edukasi dan pemberian penghargaan kepada fasilitas kesehatan yang aktif menemukan kasus baru.
Penghargaan diberikan kepada beberapa puskesmas yang berhasil menemukan kasus kusta baru terbanyak, antara lain di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Brebes, dan Kota Jayapura.
“Melalui peringatan Hari Kusta Sedunia tahun ini, kami menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat sinergi nasional menuju eliminasi kusta serta Indonesia bebas stigma terhadap penyintas kusta,” kata dr. Andi.
Kementerian Kesehatan mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri jika menemukan gejala kusta, serta mendukung upaya penghapusan stigma agar pasien dapat memperoleh pengobatan secara cepat dan tuntas.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI.Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567 atau email [email protected]. (DJ/HY)
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik
Aji Muhawarman, ST, MKM